
Tulungagung – Memasuki puncak musim kemarau, masyarakat di Kabupaten Tulungagung mulai merasakan fenomena bediding yang ditandai dengan suhu udara lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kesehatan apabila masyarakat tidak menjaga daya tahan tubuh.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh perubahan suhu yang terjadi selama musim kemarau. Udara yang lebih dingin dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya infeksi saluran pernapasan seperti batuk dan pilek.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain bayi, balita, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan maupun penyakit penyerta. Mereka dinilai lebih rentan mengalami penurunan kondisi kesehatan saat suhu udara menurun.
Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat dianjurkan mengenakan pakaian yang hangat saat beraktivitas pada malam atau pagi hari, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak minuman hangat, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta mengikuti perkembangan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, mengatakan fenomena bediding merupakan kondisi yang lazim terjadi setiap musim kemarau sehingga masyarakat tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan.
“Bediding adalah fenomena alam yang biasa terjadi saat musim kemarau. Yang terpenting, masyarakat tetap menjaga kesehatan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan menerapkan pola hidup bersih serta sehat agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan baik,” ujar Desi, Selasa, (7/7/2026)
Dinkes berharap masyarakat lebih waspada terhadap perubahan cuaca selama musim kemarau sehingga risiko munculnya penyakit akibat udara dingin dapat diminimalkan.(mis/red)


