
Tulungagung – Sejumlah warga Kabupaten Tulungagung mengeluhkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax yang hingga kini belum mengalami penurunan, meskipun harga minyak mentah dunia dilaporkan terus melandai dalam beberapa pekan terakhir.
Keluhan tersebut ramai disampaikan masyarakat pada Rabu (24/6/2026). Warga menilai penurunan harga minyak mentah dunia seharusnya dapat diikuti dengan penyesuaian harga BBM di dalam negeri sehingga memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
“Harga minyak dunia katanya turun, tapi harga Pertamax masih tetap. Kami berharap ada penyesuaian karena biaya transportasi sehari-hari cukup terasa,” ujar salah seorang warga Tulungagung.
Berdasarkan laporan pasar energi global, harga minyak mentah jenis Brent saat ini berada di kisaran US$80 per barel. Penurunan tersebut terjadi setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya sempat mendorong kenaikan harga energi dunia.
Selain mengeluhkan harga Pertamax yang belum berubah, sebagian masyarakat juga menyoroti ketersediaan Pertalite di sejumlah SPBU yang terkadang mengalami keterlambatan distribusi. Kondisi tersebut menyebabkan antrean kendaraan masih sesekali terjadi, terutama saat pasokan BBM belum datang secara optimal.
Bagi masyarakat yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja maupun menjalankan usaha, pengeluaran untuk bahan bakar menjadi salah satu komponen biaya terbesar. Karena itu, mereka berharap tren penurunan harga minyak dunia dapat segera menjadi pertimbangan dalam evaluasi harga BBM nasional.
Menanggapi hal tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa harga BBM non-subsidi dievaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta kondisi pasar energi global.
Menurutnya, penyesuaian harga tidak dilakukan berdasarkan perubahan harga minyak dalam jangka pendek, melainkan melalui mekanisme evaluasi yang berlangsung dalam periode tertentu. Oleh karena itu, perubahan harga BBM memerlukan waktu sebelum diterapkan kepada konsumen.
Meski demikian, peluang penurunan harga BBM non-subsidi tetap terbuka apabila tren penurunan harga minyak dunia terus berlanjut dan kondisi pasar internasional tetap stabil.
Masyarakat Tulungagung berharap pemerintah dan Pertamina tidak hanya memperhatikan aspek harga, tetapi juga memastikan ketersediaan BBM tetap terjaga. Sebab, harga yang terjangkau dan pasokan yang lancar dinilai sangat penting untuk mendukung mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi daerah.
Dengan membaiknya kondisi pasar energi global, warga kini menunggu realisasi evaluasi harga BBM agar manfaat penurunan harga minyak dunia dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.(mis/red)


