
Tulungagung – Sebanyak 103 penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, mengalami gejala mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi makanan yang diproduksi Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo pada Senin (27/7/2026). Dugaan keracunan tersebut kini masih dalam proses penyelidikan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Aris Setiawan, mengatakan pihaknya menerima laporan kejadian tersebut pada Rabu siang. Setelah menerima informasi, tim langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penyelidikan epidemiologi.
Sebagai bagian dari proses investigasi, petugas mengambil sampel makanan yang masih tersisa beserta bahan bakunya. Seluruh sampel kemudian dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya guna memastikan penyebab pasti munculnya gejala pada para penerima manfaat.
“Data sementara ada sebanyak 103 orang bergejala mual, muntah, dan diare. Satu orang menjalani perawatan di puskesmas, 15 balita dan satu ibu menyusui terdampak, tujuh siswa serta enam guru juga mengalami gejala, sedangkan sisanya merupakan penerima manfaat lainnya,” kata Aris.
Selama pemeriksaan di Dapur SPPG Pakisrejo, tim juga menemukan sejumlah catatan. Salah satunya, dapur tersebut belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sehingga standar operasional prosedur (SOP) penyelenggaraan dapur dinilai belum sepenuhnya terpenuhi.
Petugas juga menemukan minuman Hydro Coco dan obat diare yang berdasarkan keterangan pengelola digunakan sebagai penanganan awal bagi warga yang mengalami keluhan. Menurut Aris, langkah tersebut seharusnya tetap dikoordinasikan dengan fasilitas kesehatan terdekat karena Kabupaten Tulungagung telah memiliki jaringan pelayanan kesehatan hingga tingkat desa.
Sementara itu, hasil penyelidikan awal mengarah pada menu olahan daging yang diduga menjadi penyebab gangguan pencernaan. Berdasarkan keterangan sejumlah warga, makanan tersebut sempat mengeluarkan aroma tidak sedap sebelum dikonsumsi. Meski demikian, penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium yang diperkirakan baru keluar dalam waktu sekitar dua minggu.
Menyusul dugaan keracunan tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Dapur SPPG Pakisrejo mulai Kamis (30/7/2026). Penghentian sementara dilakukan hingga seluruh proses investigasi dan evaluasi selesai dilaksanakan.(mis/red)


